Tak semua falsafah dapat dicerna oleh akal manusia karena nilai sebuah falsafah amat luas dan dalam, kadang pemikiran akal manusia hanya mengira-ira saja padahal belum tentu opini/ilusi yang dieksploitasikan oleh pembuatnya sesuai dengan penafsiran pembacanya,tapi begitulahfenomena dalam kehidupan ini.
Kadang apa yang terjadi dalam hidup ini ditafsirkan jelek dan tak sesuai dengan hakekat dan tujuan manusia padahal apa yang telah diberikan kepada manusia sudah sepantasnya menurut sang pencipta,Alloh yang maha esa.
Keluh dan kesah sudah menjadi nyanyian sehari-hari,tangis dan tawa menjadi bumbu dalam hidup,namun jika manusia dalam posisi diatas kadang selalu lupa akan Tuhan-nya mengidolakan harta benda dan menomer-satu-kan sebuah nilai kekayaan,padahal roda kehidupan terus berjalan dan berputar dalam poros keadilan Tuhan yang suatu saat akan tiba waktunya bertukar posisi.
KEHIDUPAN
TUHAN
↓↓
MANUSIA
↓↓
MENJALANI HIDUP
↓↓
MATI
↓↓
KEMBALI KE TUHAN
-TUHAN : Menciptakan alam semesta dan manusia ke muka bumi untuk menjadi khalifah dan melakukan kewajiban utamanya sebagai hamba ciptaanTuhan yaitu beribadah
-MANUSIA : Melaksanakan apa yang menjadi tujuan dari penciptaan Tuhan yang sudah didengar/dilihat dari utusan Tuhan yaitu Nabi dan Rosul-Nya
-MENJALANI HIDUP : Manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki wajib berupaya bertahan hidup (surviva) dengan usaha semaksimal mungkin untuk menjalani kehidupan di muka bumi.berkoloni/berkomunitas dengan berbagai sifat dan pikiran yang berbeda antara manusia satu dengan yang lainnya.Sekali lagi disini manusia wajib untuk melakukan tujuan utamanya sesuai dengan kehendak Tuhan yaitu beribadah
-MATI : Tuhan memberikan batas maksimal untuk hidup dengan tujuan agar manusia bisa berfikir dengan segala kecerdasan yang dimiliki sehingga manusia tidak hidup dengan santai seolah-olah akan hidup selamanya tapi sebaliknya manusia harus menjadi sadar dan segera berbenah untuk mempersiapkan kehipan selanjutnya yaitu alam kematian.
-KEMBALI KE TUHAN : Setelah manusia menjalani kehidupan maka dari awal kematian selanjutnya manusia akan memberikan semua pertanggungjawabannya kepada Tuhan, apapun yang dilakukan dimuka bumi tak akan lepas dari raport yang sudah tergaris di masing-masing manusia sesudah kematiaanya.
NILAI SEBUAH KEJUJURAN
Dalam kehidupan manusia kata " Kejujuran " sering diutarakan dan tak asing lagi dalam telinga kita, akan tetapi nilai kejujuran sendiri menjadi tidak bermakna manakala manusia lebih memandang duniawi dibandingkan ukhrowi/akherat.
Artinya perkataan tentang kejujuran menjadi hanya sekedar kata manis terucap saja didalam mulut tanpa ada nilai kenyataannya. Kadang faktor ekonomi,keluarga dan lain sebagainya membuat kita menjadi tertutup rasa dan naluri untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran.
Menutup mata itulah kata yang pas untuk menggambarkan hampanya sebuah nilai kejujuran yang tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya.
Makna kejujuran diabad sekarang
Apalagi dijaman modern ini, sebuah nilai kejujuran teramat langka dan akan menjadi sebuah dilema yang panjang untuk diuraikan dalam kebenaran.Sekali lagi dunia menadi salah satu alasanmengapa nilai kejujuran hanya dimulut saja, perekonomian yang makin sulit begitu berperan untuk menutupisebuah kejujuran menjadi topeng belaka.
Manusia berlomba-lomba membuat kaligrafi dari sebuah nilai kejujuran tetapi dibalik itu semua haya terkandung nilai semu dan tak bermakna hanya kiasan yang tak berujung di hati.
Kesimpulan
Manusia adalah makhluk dan hamba Tuhan yang diberikan kelebihan dibanding makhluk yang lainnya maka dengan hal itu seharusnya kita sadar harus bagaimana kita mempertahankan sebuah " nilai kejujuran " didalam hati sanubari kita.
Seberat apapun kehidupan didunia ini janganlah sampai nilai kejujuran kita ditukar dengan sesuap nasi dan lain sebagainya karena hal itu hanyalah keuntungan sesaat yang akan lapuk ditelan waktu tapi sebaliknya harus kita pertahankan nilai kejujuran itu bagai sebuah prasasti yang berdiri kokoh tak goyah di terjang musim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar